Categories
Cerbung

Sebuah Keputusan

Ini adalah lanjutan dari Cerbung “Dia Kembali” yang pernah aku buat, sebenernya engga pernah kepikiran buat bikin kelanjutannya lagi tapi tiba-tiba dapet ide buat ngelanjutin cerita jadi aku buat deeehhh. Selamat membaca gaes~

***

Tiga bulan setelah kejadian aku menolak keinginan Dewi yang ingin kembali denganku, aku merasa sedikit lega. Setidaknya aku telah mengungkapkan rasa kecewa yang selalu aku pendam. Tapi anehnya perasaan lega itu benar-benar hanya sedikit, aku merasa seperti dihantui rasa gundah dan cemas akan keputusanku sendiri.

Ada rasa takut yang menghantuiku. Aku takut jika keputusan yang kuambil ternyata salah seperti 6 tahun lalu. “Bagaimana jika ternyata Dewi adalah sosok yang paling bisa menerima keadaanku? Bagaimana jika hanya Dewi yang bisa setulus itu menerima keluargaku?” Aahhh pertanyaan-pertanyaan bodoh itu kerap kali muncul dalam pikiranku. Sebenernya aku tahu alasan kenapa aku seperti ini, tapi rasanya egoku terlalu besar untuk mengakuinya.

Aku memiliki sebuah rahasia kecil yang tak pernah kuceritakan pada siapapun kecuali Rani. Meski sudah berlalu selama 6 tahun, namun rasanya semua masih segar dalam ingatanku. Saat itu usiaku masih awal 20 tahunan, masih sangat muda dan jauh untuk bisa dikatakan dewasa bahkan lebih tepat jika disebut dengan istilah labil.

Sebuah cerita tentang aku dan mantan pacarku terdahulu. Kiki namanya, dia gadis yang cenderung jutek dan tidak banyak tersenyum, tingginya sangat standar untuk ukuran wanita Indonesia, parasnya tidak cantik paripurna tapi cukup menarik perhatianku, ditambah rambut ikalnya yang sering ia biarkan terurai. Meski kebanyakan wanita menyukai rambut panjang yang lurus, namun Kiki nampaknya tidak menginginkan hal itu. Dia terlihat percaya diri dan nyaman dengan rambutnya. Hal itulah yang menambah daya pikatnya dimataku.

Dulu aku berpacaran dengan Kiki hanya sekitar 10 bulan, putus dengan alasan yang aku sendiri pun tidak mengerti, walaupun yang memutuskan Kiki adalah aku. Setelah putus, hubungan kami memang sempat renggang. Mungkin dia sakit hati lantaran aku memutuskannya tanpa kejelasan. Tapi kalau boleh jujur sebenarnya aku masih menyimpan perasaan untuknya, belum lagi Kiki satu-satunya wanita yang pernah aku bawa ke rumah saat itu.

Saat membawa Kiki ke rumah, aku tidak memiliki ekspetasi apapun. Hanya sekedar membawa pacar ke rumah karena malas untuk pacaran di tempat yang tidak jelas. Tapi ternyata keluargaku sangat menyukai Kiki, pun sebaliknya. Aku melihat wanita yang jarang tersenyum ini menjadi sangat mudah menarik sudut bibirnya saat sedang berinteraksi dengan keluargaku. Setelah putus, jelas saja keluargaku sering menanyakan “Kenapa Kiki tidak pernah ke rumah lagi?”.

“Bagaimana mau ke rumah kalau aku saja mutusin tanpa sebab yang jelas” gerutuku dengan lirih, yang jelas tidak akan di dengar oleh siapapun. Rasanya aku terlalu malas untuk menjelaskan semuanya. Karena terlalu sering ditanya tentang Kiki, terutama Mama. Maka aku putuskan untuk menghubungi Kiki lagi.

“Hai, apa kabar?” Setelah mengirim pesan itu, hatiku dagdigdug tidak menentu. Aku menunggu balasan pesan Kiki dengan rasa yang sulit untuk aku jelaskan. Sesekali aku mengutuki diri sendiri. Bodoh, berani sekali aku datang lagi dalam hidupnya setelah memutuskannya begitu saja. Setelah tiga jam menunggu balasan, akhirnya Kiki membalas “Baik, kenapa?” Meskipun hanya sebatas chatting tapi aku bisa merasakan dinginnya sikap Kiki. Walau balasannya begitu singkat tapi tidak mengurangi rasa bahagiaku, aku bersyukur dia masih mau membalas pesanku setidaknya dia masih menyimpan nomorku. Itu lebih dari cukup.

Sejujurnya aku bingung harus membalas apa, tidak mungkin aku bilang karena Mama yang terus menanyakan dia. Padahal kalau boleh jujur bukan karena Mama, melainkan karena rasa rindu yang sepertinya sudah tidak bisa kubendung lagi. Akhirnya aku putuskan untuk membalas dengan basa-basi lainnya. Dan ternyata dia terus membalas pesanku, walau dengan singkat dan padat.

Sejak saat itulah kami berdua kembali dekat. Kiki mulai main lagi ke rumah, tidak hanya Mama yang bahagia melihat Kiki di rumah, aku pun sama. Sesekali aku juga mengantar atau menjemput Kiki bekerja. Hubungan kami sangat baik, meski tanpa kejelasan status. Namun lama kelamaan Kiki mulai memberi kode tentang kejelasan status kami dengan menyampaikan pesan dari Ibunya “Kamu ditanyain Ibu lho, katanya kok gak pernah ke rumah” Ucapnya lewat sebuah pesan singkat.

Aku hanya bisa menghela nafas “Hehehe salam yaa, kapan-kapan aku main” balasku

Sebenarnya aku bukan tidak mau ke rumah Kiki, tapi aku merasa belum siap. Aku sangat nyaman berada didekat Kiki, aku pun bahagia bisa dekat kembali dengannya. Tapi rasanya aku belum siap untuk berkomitmen dengannya. Yaa, ini tentang kesiapanku sebagai seorang laki-laki. Bagaimana aku bisa siap, umurku masih sangat muda, elakku pada diri sendiri. Aku masih mempunyai banyak keinginan yang belum aku wujudkan. Walau egois tapi aku sempat memiliki keyakinan bahwa Kiki bisa bertahan dengan hubungan ini. Nyatanya aku keliru, Kiki menjadi lebih sering menanyakan status hubungan kami. Setiap kali ditanya aku hanya bisa diam atau berkilah dengan berbagai alasan.

Hingga suatu saat Kiki benar-benar mendesakku untuk memberikan kepastian. Aku sangat bingung, tapi aku mengerti posisi Kiki. Masih dengan rasa bingung dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Akhirnya aku memberikan kepastian untuk Kiki.

Aku memilih untuk mundur. Aku katakan pada Kiki bahwa dia tidak harus dekat lagi denganku, lebih baik Kiki melupakan aku dan bertemu dengan lelaki yang jauh lebih baik. Aku tahu keputusanku kali ini jauh lebih brengsek dibandingkan saat putus dulu. Aku yang hadir kembali dalam hidupnya tapi aku pula yang mendorong dia untuk pergi.

Setelah memberikan keputusan jahat itu aku menghubungi Rani. Aku menceritakan semuanya. Sesuai dugaanku Rani pasti akan memberikan sumpah serapahnya kepadaku. Bahkan Rani memintaku untuk jangan pernah mengganggu Kiki lagi. Meski berat aku pun menyanggupinya, aku tidak mau menjadi semakin brengsek jika tiba-tiba hadir lagi tanpa sebuah komitmen. Sejak saat itu aku benar-benar putus kontak dengan Kiki bahkan aku menghapus nomornya dari kontakku. Aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya, pun tidak mencoba untuk mencari tahu. Walau kadang aku dilanda rasa rindu dan bersalah secara bersamaan.

***

“Kamu yakin engga mau balik sama Dewi, Yo?” Tanya Mama saat aku sedang duduk sendiri di ruang tamu. Aku kaget kenapa Mama tiba-tiba menanyakan pertanyaan itu. Meski sudah kutolak, tapi Dewi sesekali masih datang ke rumah untuk bertemu Mama. Jika dulu dia terlihat sangat memaksa untuk bertemu aku, kali ini dia seolah memberiku ruang.

“Aryo, ditanya kok diam aja. Gimana?” Lanjut Mama “Aryo gak tahu Ma” jawabku singkat.

“Setiap orang itu bisa berubah Yo, kalau kamu keras begini. Apa bedanya kamu sama dia yang dulu? Mama lihat sekarang dia sudah berubah lho”

Rasanya tiba-tiba dadaku menjadi sesak dan kepalaku mendadak pusing tanpa alasan. Tanpa menjawab pertanyaan Mama, aku memutuskan keluar rumah untuk sekedar mencari udara segar.

Aku terus memikirkan kata-kata Mama. Aku pun teringat dengan Kiki. Setahun lalu aku mendapat kabar bahwa kini Kiki telah menikah. Ada perasaan lega karena pada akhirnya wanita yang pernah aku sakiti kini telah hidup bahagia. Tapi juga ada rasa menyesal kenapa dulu aku melepaskannya begitu saja. Tanpa sadar pun aku berandai-andai lagi.

“Jika dulu aku tidak mundur, apakah aku yang akan menjadi suaminya saat ini”

Aku pernah mengutarakan hal ini kepada Rani, namun menurut Rani kalau pun dulu aku tidak melepaskan Kiki tetap saja tidak ada jaminan bahwa aku akan menikahi Kiki. Bisa saja hubunganku kandas ditengah jalan. Tidak pernah ada kuat untuk sebuah hubungan yang bernama pacaran, selama apapun itu.

Daripada pikiranku terus melayang-layang tanpa arah, aku akhirnya meminta Rani untuk datang ke tempatku biasa mengobrol dengannya. Tidak perlu menunggu lama, hanya sekitar 30menit Rani sudah bersamaku.

Aku menceritakan tentang apa yang Mama katakan, berharap Rani bisa memberiku jawaban yang lebih jelas. Tapi ternyata dia hanya menjawab dengan kalimat yang super menyebalkan.

“Terserah lu, kan yang jalanin lu, yang lebih tahu perasaan lu juga cuma lu, Yo”

Meskipun Rani tidak banyak membantuku dalam membuat jawaban yang pasti tapi aku cukup terhibur dengan kehadirannya.

Rasanya memang sudah saatnya aku untuk bisa mengambil keputusan sendiri.

“Aryo, kamu serius engga bisa kasih aku kesempatan lagi?” Tanya Dewi saat dia sedang ke rumahku.

Aku terdiam, sebenernya sebulan terakhir ini aku benar-benar memikirkan hal ini. Tapi tetap saja rasanya sulit sekali untuk langsung menjawab ya atau tidak.

“Yo, katanya kamu mau serius sama aku. Masa secepat itu sih Yo kamu ngelupain aku?” Cecar Dewi lagi

“Kamu sendiri memang sudah yakin mau balik sama aku?” Aku balik bertanya dengan tatapan yang serius.

“Ya ampun Yo, kalau engga serius ngapain aku kaya gini. Aku bela-belain datang ke rumah kamu walau kamu sudah nolak aku. Aku mencoba untuk nunjukin keseriusan aku Yo” Dewi menjawab dengan nada sangat yakin, aku tak menemukan kebohongan dalam tatapan matanya. Hal itu membuatku semakin tidak bisa berkata-kata.

“Aryooo”

“Oke, ini kesempatan terakhir kamu. Aku engga main-main. Aku beneran mau serius, aku bukan anak kecil yang pacaran hanya untuk iseng-iseng atau sekedar mengisi waktu luang”

Mendengar jawabanku itu membuat senyuman Dewi mengembang di pipinya, ia mengangguk tanda mengerti dengan semua ucapanku. Sejak hari itu pun aku resmi nemerima dia kembali. Jangan tanyakan seberapa yakin aku dalam menjalani hubungan ini. Bahkan untuk orang yang memutuskan menikah saja kadang tidak bisa yakin 100% bukan? Aku hanya tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Setidaknya kali ini aku tidak lari seperti 6 tahun lalu.

Bersambung~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *