Categories
Cerbung

Kita Berbeda

Aku sedang duduk di pojok cafe, lebih tepatnya pojok dekat jendela. Yaa, pojok dan dekat jendela memang salah satu spot favoritku dimana pun aku nongkrong. Apalagi jika posisinya pas sekali dengan pemandangan khas Ibukota, yaitu jejeran gedung-gedung tinggi yang menjulang. Jika menjelang malam akan banyak lampu menyala dimana-mana, entah kenapa itu menjadi hal yang menarik perhatianku.

Aku sedang menunggu teman lama, kita janjian pukul 17.00 WIB, sekarang waktu menunjukan pukul 16.45, temanku sudah memberi kabar bahwa dia akan telat karena terjebak macet. Di Ibukota itu sudah menjadi hal yang biasa bukan? Jadi aku bisa memaklumi

Sambil menunggu Dhira, aku iseng membuka Instagram, lalu di suggestion friendku muncul nama @Abrsziel, melihat nama itu membuat jariku terdiam seketika, username yang tidak asing.

Lalu beberapa detik kemudian aku klik akun tersebut, ternyata tidak terkunci tapi hanya ada beberapa foto, itupun tidak ada foto yang menunjukan wajah sang empunya akun. Lalu ku buka 15 gambar yang ada difeednya satu persatu.

Ada salah satu foto ruang kerja yang sepi tanpa seorang pun didalamnya dan tertulis caption

“Kosong, tapi bukan berarti tak berpenghuni”

Saat membacanya aku tersenyum, ini sih sudah pasti dia. Aku kenal betul dengan ruangan yang ada dalam foto ini.

Engga salah lagi ini pasti akun milik Pak Ziel. Kemudian, dengan sendirinya memori otakku seakan mengingat kembali masa-masa saat pertama kali kenal dengan sosok Pak Ziel.

****
2015 aku bekerja disalah satu stasiun televisi swasta, disana lah awal mula aku mengenal Pak Ziel.

Kita memang beda divisi, aku bagian finance sedangkan dia berada di divisi sales & marketing.

Awal pertemuan kita pun cukup unik, saat itu ada pria berkulit putih, berbibir tipis dan warnanya merah muda, tingginya aku perkirakan sekitar 170an dan yang paling penting, aku merasa dia memiliki kharisma yang keren saja rasanya.

Tetapi entah bagaimana ceritanya dia bisa salah masuk ke divisiku. Aku masih tak habis fikir kenapa bisa terjadi, jelas-jelas diatas pintu masuk ruangan tertulis “Divisi Keuangan”, tapi kadang aku berfikir mungkin memang takdir kita untuk bisa mengenal satu sama lain dengan cara seperti itu.

Saat itu dia nampak kikuk sekali, dan saat melihatnya aku merasa langsung tertarik dengannya, aku tak mengenal dia, tak tahu pula bagaimana karakternya tapi aku bisa langsung suka. Mungkin ini yang sering dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Setelah beberapa menit aku menatap wajahnya, aku berjalan menuju arahnya.

“Cari siapa Pak?” Tanyaku

“Saya mau tanya, kalau Divisi Sales & Marketing dimana ya? Tadi saya sudah tanya satpam, tapi kayanya saya salah deh” jawabnya dengan sedikit canggung

Ooohhh Divisi Marketing, ya sudah yuk saya anterin aja

“Eehh serius? Gak ngerepotin? Kasih arahan aja gak apa-apa kok”

“Gak apa-apa, daripada nyasar lagi kan” ledekku sambil sedikit tersenyum

Dia hanya tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya yang aku rasa tidak gatal.

Lalu saat mengantarkan ke ruangannya dia bertanya “Ngomong-ngomong, namanya siapa?”

“Adara Fredella Ulani”

“Hah?” Dia terlihat bingung

“Adara Fredella Ulani, aku biasa dipanggil Dara, kalau Bapak?” jawabku lebih santai

” Ohh Dara, saya Abraham Sergius Haziel, panggil saja Abra”

“Abraham Sergius Haziel” Aku mengulang nama panjangnya

“Iyaaa” Dia tersenyum

Lalu tiba-tiba aku berhenti melangkah

“Kalau aku panggil Pak Ziel, boleh gaa?”

“Ziel? Haziel maksudnya?” Tanyanya sedikit bingung

“Iyaa, tapi Ziel nya aja engga pake Ha” aku tertawa

“Bebaslah, toh itu masih bagian dari namaku”

“Okeee, oh yaa Divisi Marketing tinggal belok kanan aja ya Pak, saya mau ke ruangan lain. Kita pisah disini” kataku

“Oh, okee makasih ya Ra” dia tersenyum

“Aduuhhh manis banget siihhh senyumnya” Batinku dalam hati sambil mengangguk-anggukan kepala

****
Sejak saat itu, aku selalu terbayang -bayang senyum manisnya. Kadang aku berpikir, bagaimana caranya untuk bisa bertemu lagi dengan Pak Ziel.

Karena kita beda divisi pasti akan sangat sulit ketemu, atau bahkan engga akan ketemu lagi.. aaarghh aku mikirin apa sih. Tapi lagi-lagi aku merasa seolah takdir berpihak kepadaku.

Selang sebulan sejak kejadian Pak Ziel nyasar keruanganku, akhirnya aku bertemu lagi, kali ini di salah satu tempat makan dekat kantor.

Saat aku sedang asik mengobrol dengan teman-temanku, tiba-tiba ada yang menyapa

“Hai Ra, apakabar?”

Saat tahu siapa orang yang menyapaku, rasanya aku ingin jingkrak kegirangan tapi kan engga mungkin, jadi aku bersikap seolah biasa saja.

“Eehh Pak Ziel, baik Pak, Bapak sendiri gimana?” Jawabku sambil senyum-senyum

“Aku baik juga, boleh gabung engga?” Tanyanya

Lalu aku menatap teman-temanku seolah minta ijin, dari reaksi teman-temanku nampaknya tidak ada yang keberatan sedikitpun.

“Boleh kok” aku menjawab

Akhirnya kita duduk bersama, saling ngobrol banyak tentang pekerjaan dan bercanda-canda.

Kalau boleh jujur, saat itu aku sangat bahagia. Gimana engga bahagia cobaa, ngobrol bareng sama orang yang kita sukai, bahkan dia juga meminta nomor handphoneku. Aaarrgghhh kaya mimpi rasanya

****
Kulihat jam dilayar handphone 17.24, tapi Dhira belum juga datang. Jadi ku tutup Instagram yang sedang ku buka.

“Dhiraaaaaaaaa, lamaaa ih. Udah dimanaa? Lu masih kejebak macet?” Ku kirim chat ke Dhira

Tak menunggu lama, Dhira langsung membalas pesanku

“Sorry sorry, masih macet nih. Gilaaa parah banget. Tunggu yaaa, jangan pulang lu Ra, sebelum gue dateng”

“Yaeyalahhh, gimana ceritanya gue pulang, kan tujuan gue kesini aja buat nemuin lu” balasku ke Dhira

Kemudian aku melanjutkan lagi membuka Instagram, tentu sajaa kenangan tentang Pak Ziel masih berlanjut.

****
Aku memang tidak satu Divisi dengannya, tapi aku tahu persis kalau itu ruang kerja dia, karena aku pernah beberapa kali menemani dia lembur.

Setelah kejadian dia meminta nomorku, kita menjadi dekat, sering chattingan bahkan beberapa kali menonton bareng.

Rasa sukaku terhadap dia pun semakin bertumbuh subur, layaknya seperti tanaman yang disiram dan dipupuk dengan rutin.

Gimana engga makin suka, hampir setiap hari kita chattingan, saling memberi perhatian walau lewat ledekan.

Dan Pak Ziel sudah semakin santai ngobrol denganku, tidak seperti awal yang selalu membahasakan dirinya “saya” saat sedang ngobrol denganku, kini dia lebih sering bilang “lu, gue”

Kalau aku, karena usia kita cukup berbeda jauh jadi yaa tetap memanggil “Pak” dan membahasakan diriku dengan “aku” walau kadang, kalau dia bersikap menyebalkan, aku tidak akan sungkan menyebut kata “Lu” kepadanya.

Misalnya, saat dia memintaku datang ke acara lomba keponakannya, tapi dia bilang aku harus bawa pom-pom dan disana teriak-teriak layaknya cheerleders.

Tentu saja aku memberinya respon “Nyebeliiinn banget lu”

Dia tak pernah keberatan dengan hal itu, malah selalu tertawa saat aku sudah mengeluarkan kekesalanku dengan menggunakan kata “lu”

Walau dekatanku dan Pak Ziel bisa dibilang singkat, hanya 1 Tahun, tapi rasanya banyak moment manis yang sangat berkesan bagiku.

Saat dia pulang dari keluar kota, pasti dia akan membelikanku oleh-oleh tanpa diminta, atau saat menonton bioskop bersama.

Kita pernah menonton bioskop film action, tapi didalam bioskop kita berdua tidak berhenti tertawa. Semua bermula saat aku bilang “Pak, Perhatiin deh pemainnya itu mirip dengan si A ya, terus pemain yang itu kaya B”

Lalu dia tertawa, dan entah kenapa kami malah sibuk dengan imajinasi kita berdua tentang teman yang kita kenal.

“Gilaaaa, baru kali ini gue nonton film action rasa komedi. Fix, emang ada yang salah Ra sama otak lu” celoteh Pak Ziel saat keluar dari bioskop

Anehnya aku merasa senang mendengar hal itu, entah terlalu terbawa perasaan atau bagaimana, tapi aku merasa itu seperti pujian bagiku, seolah-olah aku adalah orang yang beda dimatanya.

****

Tapi saat hubungan kami semakin dekat, aku memutuskan untuk resign dari kantor.

Bersambung

4 replies on “Kita Berbeda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *