Categories
Cerbung

Kita Berbeda Part II

Hubunganku dengan Pak Ziel memang semakin dekat, tapi tidak pernah ada ikatan atau komitmen apapun. Hanya sebatas teman kerja yang kebetulan cocok dalam bertukar cerita.

Kalau masalah perasaan? Jelasss, aku sebagai perempuan pasti sering terbawa perasaan dengan segala tindak tanduk yang Pak Ziel lakukan.

Bayangkan saja, dia pernah tiba-tiba datang ke ruang kerjaku, lalu mengajak makan siang bersama. Dengan kedatangannya ke ruanganku saja sudah membuat banyak mata tertuju padaku, seakan-akan tatapan mereka bertanya “ada hubungan apa antara aku dan Pak Ziel?”

Ini ditambah dengan tingkah konyol Pak Ziel yang mengulurkan tangannya dan dia berkata “Ayoo Ra, mau digandeng ga? biar kaya disinetron gitu”

Ya ampuunnn, mungkin saat itu mukaku merah padam karena ulah iseng Pak Ziel itu. Iyaaaa iseng, aku tahu itu hanya keisengan Pak Ziel, tapi tetap sajaa, kalau boleh jujur saat itu jantungku berdebar kencang. Antara malu tapi aku juga bahagia.

Tak ingin menjadi bulan-bulanan teman dalam ruangan, aku abaikan saja uluran tangan Pak Ziel yang sudah sejak tadi berada persis didepan mukaku.

Aku beranjak dari tempat dudukku sambil berkata “Lu gilaa ya Pak? Udah ah ayookk kalau mau makan” Lalu aku tertawa dan berjalan keluar ruangan, tak lama Pak Ziel mengikutiku berjalan sejajar denganku.

Kalau aku perhatikan sejak kita sering keluar untuk makan bareng atau nonton bareng. Kebiasaan Pak Ziel adalah selalu jalan sejajar denganku. Tidak pernah dia mendahuluiku atau meninggalkanku, pokoknya selalu sejajar. Kalau membayangkan hal ini selalu berhasil membuatku senyum-senyum sendiri.

Pernah suatu hari saat kita sedang jalan bersama, aku melihat ada gerombolan teman-teman dari divisi Pak Ziel yang melihat kita, lalu aku sedikit menjauh dari Pak Ziel. Aku takut dia malu jika ketahuan jalan denganku karena sebenernyaa jabatan Pak Ziel cukup tinggi, sedangkan aku hanya staff biasa.

Terang saja itu membuatku sedikit minder, tidak tidak bukan sedikit tapi sangat minder.

“Kenapa sih Ra?” Tanya Pak Ziel saat aku tiba-tiba menjauh darinya

“Iihhh liat tuuh, banyak teman-teman Bapak disana” aku melirik ke sebelah kananku tempat gerombolan anak marketing yang entah mereka sedang mencari apa.

Saat Pak Ziel menoleh kearah temannya ada salah satu yang bilang “Ciyeee sekarang mainnya sama yang berkrudung yaa” tidak keras memang, tapi aku tetap masih bisa mendengar kata-kata itu.

Lalu Pak Ziel dengan santainya menghampiri teman-temannya itu, sedangkan aku? Jelass aku pergi menuju arah yang berbeda dengan Pak Ziel.

Aku berjalan tanpa berkata apapun ke Pak Ziel. Bukan karena marah, tapi aku malu dan tidak enak hati dengan Pak Ziel. Gimana kalau dia jadi bahan ledakan temannya hanya karena aku. Iihhh aku kenapa jadi mikirin sih, lagi pede banget bakal diomongin.

Tak lama setelah aku berjalan, tiba-tiba Pak Ziel sudah ada disebelahku lagi.

“Kenapa pergi duluan sih Ra? Bukannya nungguin sebentar”

“Engga enaklah, nanti Pak Ziel diledekin lagi, dikira kita ada apa-apa” jawabku sambil tetap berjalan

“Udah biasa, tadi juga ada bilang katanya sekarang gue mainnya sama cewek berkrudung” cerita Pak Ziel dengan santai dan tanpa ekspresi apapun

Aku tak menjawab, lagi pula jawaban apa yang mau keluar dari mulutku? Selain aku sudah mendengar sendiri kata-kata itu, aku juga tak ada ide untuk menjawab kalimat ambigu itu.

****

Aku memutuskan untuk resign dari kantor. Alasan utamanya karena aku mulai merasa jenuh dengan rutinitas di kantor. Aku merasa harus mencari yang lebih baik lagi, maklum saat itu usiaku baru 22 tahun. Aku masih sangat labil dalam menentukan sebuah keputusan.

Sebelum benar-benar membuat surat resign, aku memceritakan keinginanku untuk resign kepada Pak Ziel.

“Ya gak apa-apa Ra, lu masih muda. Cari pengalaman yang banyak, jangan cuma stuck disatu tempat. Cari tempat yang lebih baik dan bisa buat lu berkembang”

Aku merasa mendapat dukungan dari Pak Ziel, walau disatu sisi aku juga sedih, karena berarti aku tidak akan bisa jalan bareng Pak Ziel lagi, kalau sekantor kan selalu ada alasan untuk makan siang bareng, atau nonton bareng karena kantor kita memang dekat dengan salah satu Mall di Jakarta.

Kalau aku resign? Gimana cara jalan bareng lagi, sudah engga ada alasan untuk melakukan hal itu lagi. Tapi disisi lain hatiku berkata ini kan juga salah satu keinginanku. Menjauh dari Pak Ziel.

Lalu akhirnya aku pun resign dan resmi keluar dari kantor. Hubunganku dengan Pak Ziel tetap baik, kita masih tetap chattingan tapi sudah tidak sering bertemu. Kadang sesekali kita bertemu, untuk sekedar mengobrol dan menonton film bersama. Kali ini tidak berdua, aku selalu mengajak temanku saat bertemu Pak Ziel. Dhira, yaaa dia adalah saksi kedekatanku dengan Pak Ziel dulu.

****
“Daraaaa, ya ampuunn kangen banget gue sama Lo” teriakan Dhira memecahkan lamunanku tentang Pak Ziel

“Akhirnyaaa yaa dateng juga lu. Apa kabar? Kok cantik si lu sekarang” godaku kepada Dhira yang terlihat makin feminim dan mulai berkrudung

“Cantik mah dari dulu Ra, lu aja engga pernah mengakui, lu lagi ngapain sih tadi gue liat senyum-senyum sendiri”

“Nungguin Lo lah, ngapain lagi. Tapi sambil stalking orang sih”

“Siapa? Gebetan baru? Ceritaaaaa, udah lama gak denger lu ceritain cowok”

“Bukan, orang lama. Lu juga kenal”

“Jangan bilaaang….” Dhira tak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu maksud dia jelas Pak Ziel aku hanya tertawa sebagai tanda itu adalah “benar”

“Gila lu yaa Ra, aah lagian dulu sok-sok menjauh sekarang stalking. Dasaar muna”

Aku hanya tertawa mendengar kalimat Dhira. Mungkin benar aku memang muna, tidak pernah mengakui dengan jelas bahwa aku menyukai Pak Ziel.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku harus mengakui? Orang ini hanya perasaan sepihak saja. Aku juga tak pernah tahu bagaimana perasaan Pak Ziel yang sebenernya.

Menurutku, menjauh adalah hal yang paling tepat. Untuk apa aku semakin dekat tapi tak ada kejelasan didalamnya. Hanya bisa berasumsi tentang kebaikan yang Pak Ziel lakukan, padahal belum tentu dia melakukan semua itu pakai perasaan, bisa jadi dia begitu ke semua perempuan, aku saja yang terlalu kepedean.

Jika saat itu aku tidak menjauh, yang ada itu hanya akan membuat perasaanku terhadap Pak Ziel semakin subur saja, dan itu berarti aku sedang menyiksa diri dalam sebuah harapan kosong yang ku bangun sendiri. Belum lagi, tentang banyaknya perbedaan yang kita miliki.

Bukan hanya perbedaan usia kita yang terpaut 12tahun, itu masalah itu mungkin masih bisa ditolerir, yang paling sulit adalah perbedaan keyakinan kita. Yaa, kita memang berbeda.

Sejak awal aku tahu itu, makanya aku menjauh saat mulai sadar memiliki rasa lebih, karena aku takut jika nanti perasaanku semakin dalam akan semakin sakit dan sulit untuk menjauh bukan?

Lagian kalau menurut Tere Liye “Diungkapkan atau tidak, yang namanya Cinta yaa tetap Cinta”

Walaupun aku tidak tahu sebenernya rasa apa yang aku miliki. Memang benar cinta atau hanya sekedar suka dan kagum saja.

BACA JUGA :

43 replies on “Kita Berbeda Part II”

Diungkapkan atau tidak, cinta tetaplah cinta. Tapi kok aku ngerasa kalau Dara itu cuma baper karena ada yang perhatian sama dia. Kadang perempuan lebih mudah baper, yang berujung berharap lebih. Sementara laki-laki senang sekali menggantung tanpa kepastian.

Perasaan beda agama itu menjebak ya kak wkwk. Harusnya dari awal Dara bisa membentengi perasaannya, kan banyak juga cewek cowok yang bisa temenan tanpa perasaan apa-apa. Tapi yaudah mau gimana Dara udah kadung ada rasa sama bosnya. Duhhh kok. Aku jadi kebawa cerita ya wkwkwk

Jarak paling jauh dari sebuah hubungan memang beda tempat ibadah ya kak, aku kok setuju sama keputusannya Dara ya hehe

Sesi curhat ya kak ini kita berbeda part II , kan emang berbeda kak yang satu cowo yang satu cewe, sehingga timbullah satu perasaan suka karena satu kantor, makan dan keluar kantor berdua tapi di luar kantor juga ga kak wkwkwk. Tapi emang gitu sie namanya juga kehidupan ya kak. Terus sekarang gimana dengan pak ziel, dia dah tau blm kalau kamu suka juga hahaah. Minta sama Allah dideketin terus kalau memang dia jodohmu kak.

Hahahaha sesi curhat, tp curhatan siapa tetep rahasia wkwk nanti aku sampein deh sama si Dara buat doain pak Ziel 😂😂

Yaelah Ra, Ra…

Udah waktunya Pak Ziel tau perasaan lo ke dia Ra. Haree gene masih mendem perasaan. Noh liat tetangga lo si Ipul kerjaannya ditembak terus sama cewek.

Udah lah ga zaman cowok harus ngungkapin perasaan dulu, ungkapin aja kalau ditolak yaa ga apa, setidaknya udah ga ada unfinished business lagi sama Pak Ziel.

Kalau diterima ywdh urusan klean deh mau nikah dimana Ausi, Las Vegas atau mana? Atau kamu mau nimbrung ke Tuhan nya Pak Ziel atau sebaliknya.

Yang penting jangan sampe ada unfinished love story antara klean. Paham? *eh kok jadi saya yang ngatur ini hahaha maap bu kebawa alur 🤣

Kita berbeda ini sebenarnya adalah alasan yang tepat untuk membantah apa yg terjadi. Aku sebenarnya lebih tega sama perasaan sendiri, kalau sudah tau berbeda takkan menikmati getaran yang ada. akhir-akhir ini lebih belajar jujur, aku kan bilang sama “dia”, meski jadi terkesan agresif atau kepedean seperti cerita diatas. Tapi demi ga jadi cewek-cewek banget lah yaa.

Eh jadi curhat, ceritanya menarik. Aku tungguin nih jika da kita berbeda 3

Saya baca ‘kita berbeda’ ini sampai beberapa kali, karena merasa ini cerita ‘gantung’ … ups ! Rupanya memang cerbung ya kak ser. Asik. Mengalir. Ditunggu lho kak part selanjutnya.. semangat semangat

Menurutku lebih baik tanya saja kejelasan sama Pak Ziel. Biar gak memupuk harapan yang tidak pasti. Hehehe. Dan diliat juga sih kalau misalnya memang ingin bersama apakah dia bisa merubah keyakinan atau tidak. Karena kalau beda agama tuh kayak susah gitu deh kelihatannya.

Duh, diungkapkan atau tidak cinta tetaplah cinta. Jleb banget untuk seseorang yg merasa hanya cinta sendiri. Sayang banget ceritanya sedikit kentang kak, padahal mau tau gmn lanjutannya. 😂

Ngomong2 suka beda agama, diri ini pernah mengalami juga. Udah tau siih dia beda agama. Dari awalpun nggak pengen juga tertarik sama dia. Tapi ya namanya perasaan emang nggak bisa ditahan-tahan. Akhirnya jatuh juga. Tapi kadang emang cinta nggak semua perlu diungkapkan ya. Kalo tahu ujungnya sulit bersama. Mendingan emang nggak usah dimulai saja. Eaa. Kenapa jadi curcol.. wkkwkw

memulai sesuatu yang kita tahu tak bisa diselesaikan itu menyakitkan Mbak. Eaaa… Eh, tapi ini serius, mending jangan. Ngomong mah gampang ya gaes. nggak gampang juga buat benar2 terhindar dari yang begini. BTW, keren banget si Dara bisa pergi, proud of her

Pesan aku buat si dara, “Jangan baper lah Ra. Ga bakalan ada laki-laki yang baik ke perempuan, atau sebaliknya perempuan baik ke laki-laki kalo kita saling baper-baperan hanya krn kebaikan lawan jenis. Semua bisa berbuat baik, bukan hanya krn alasan ada perasaan.”

“Diungkapkan atau tidak namanya tetap saja cinta,” aku juga suka Quotes ini. Seperti Dara yang ga bisa menyatakan perasaanya pada Pak Ziel, aku pun demikian. Seperti Dara yang tak mampu meraba perasaanya pada Pak Ziel apa suka, kagum atau apa, aku pun begitu. Intinya aku suka bangey ceritanya, jadi curhat deh hahahah

“Diungkapkan atau tidak, yang namanya Cinta yaa tetap Cinta”.

Yang namanya cinta identik dengan jatuh, menjatuhkan hati san harapan ke sesuatu yg tak pasti. Hehehe

Akan selalu ada perbedaan. Kita selalu beda. Tetapi ada beda yang dapat di tolerir ada beda yang kongkrit tidak bisa di tawar.

Seru ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *