Categories
Tentang....

Kebahagian Orang Tua

Berawal dari salah satu orang yang komen di facebook aku, dia nanya begini :


Kalau kebahagian orang tua itu tanggung jawab siapa sih? soalnya aku pernah denger ada orang tua bilang “Kirain anak dirawat dari kecil pas udah gede bisa buat bahagia”

Sebenernya mau bahas ini sejak beberapa hari lalu tapi takut akuu tuh, takut kalau aku salah dalam berpendapat, takut juga kalau ada yang ngecap aku anak durhaka padahal belum tau gimana beratnya jadi orang tua.

Tapi pagi tadi ada salah satu temen ngechat, komen tentang tulisan aku minggu lalu yang tentang Apakah Seorang Anak Harus Berguna bagi Orang tuanya? . Obrolan pun bergeser tentang kebahagian orang tua. Terus aku memantapkan diri aja buat nulis tentang ini, tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun, ini mah cuma keresahan yang suka aku rasain dan nyatanya memang banyak juga yang merasakan hal yang sama.


Kebahagian orang tua itu gimana si?

Image by google

Kaya yang aku bilang diatas, karena posisi aku saat ini adalah seorang anak, jadi aku gak bisa kasih gambaran yang jelas tentang kebahagian orang tua. Tapi aku pernah liat sebuah acara televisi, saat itu ada orang tua yang kehilangan anaknya karena sang anak sakit keras, lalu orang itu bilang.

“Saat saya harus kehilangan harta benda yang berharga saya mungkin sedih tapi seenggaknya saya masih bisa berjuang untuk mencari pengganti, namun saat saya kehilangan seorang anak rasanya seperti kehilangan harapan dalam hidup saya”

Nah dari situ aku mencoba menerka-nerka tentang perasaan orang tua, mungkin ya setiap orang tua emang punya harapan tersendiri pada setiap anaknya.

Ada yang sekedar berharap anaknya tumbuh jadi orang yang berguna (Walau gak jelas ini maksud doanya berguna dalam hal apa) ada juga yang memang berharap anaknya bisa menjadi penerus usahanya (Wahai kamuu si fulan/fulana nasibmu sudah ditentukan orang tuamu sejak kamu masih jadi embrio lho hahaha) atauu ada juga yang gak peduli anaknya mau menjadi seperti apa selama itu masih dijalan yang benar dan membuat anak bahagia sebagai orang tua hanya bisa mensupport aja (Beruntung laaah kamuu yang punya orang tua begini)

Terus apa hubungannya harapan orang tua sama kebahagian orang tua Ser? ini inti tulisannya apa dong? hahahaha bentar ya bentar, aku tuh lagi memilih-milih kalimat yang pas gitu lho. Menurut aku, tolong dicatat  dan digaris bawahi bahwa ini hanya asumsi pribadi aku aja yaa, syukur-syukur kalau ada yang sependapat wkwkwk

Setiap harapan orang itu juga bisa menjadi akar atau benih-benih kebahagian bagi orang tua, meskipun harapan setiap orang tua mah udah pasti beda porsi dan jenis yaa (yaiyalah).

Karena harapan-harapan itulah kadaang ada orang tua yang dengan sadar atau engga jadi menggantungkan kebahagiannya sama anak, kan jadi serba salah doong. Saat ternyata si anak engga bisa memenuhi harapannya, mereka akan merasa kecewa dan sakit hati sendiri. Kalau sakit hatinya dirasain sendiri (dipendam) mungkin masih mending ya tapi kalau dilampisin ke anak, jadi lain lagi dong ceritanya. Semua jadi merasa sedih, kecewa dan tersakiti.

Disisi orang tua jelas sedih dan kecewanya karena ekspetasi gak sesuai kenyataan, dan buat si anak akan merasa gagal juga sakit hati . Pediihhh cuy kalau udah begituu.

Aku kasih contoh kasus nyata deh ya, misalnya saat anak masih sekolah dimasa-masa ini jelas posisi orang tua itu hanya bisa mensupport walau ada aja sih orang tua yang menuntut anaknya buat pinter blablablabla wkwk (untung orang tua aku gak peduli nilai yang penting lulus haha)  kebanyakan yang ngerasin hal begini adalah anak yang orang tuanya concern banget sama pendidika,  soalnya saat nilainya jelek takut susah buat masuk kuliah dijurusan tertentu, terus mempengaruhi masa depan dan blablabla (padahal belum tentu juga nilai bagus bikin hati anak bahagia)  kalau buat kalangan bawah maah jarang lah ribut-ribut hal beginian.

Saat masa sekolah atau kuliah berakhir akan masuk ke fase selanjutnya, yaituu masa-masa bekerja yang sudah mulai menghasilkan uang. Fase ini kayanya kebalik nih, kalau yang dulunya dituntut tentang nilai, mungkin saat masuk fase ini malah sedikit lebih lega karena udah jarang ada tuntutan (tapi akan ada tuntutan lain si kayanya), tapi untuk orang yang terlahir dari kalangan sederhana dan bawah, rasanya ini fase terberat wkwkwk

Harapan-harapan orang tua makin membumbung tinggi, berharap karena anak udah masuk kedunia kerja bisa lebih meringankan beban orang tua, nyatanya kadang dunia kerja itu terlalu kejam. Kerja keras sebulan hasilnya paling cukup buat sebulan jugaa malah rasanya cepet aja gituu yang namanya uang gajian karena banyak kebutuhan juga, jadi ngasih ke orang tua ya seadanya, yang penting semua kebutuhan udah gak minta lagi sama orang tua, sedikit meringankan lah. Pikir si anak.

Nyatanya? Jeng-jeeeeengggg, tidak sesimple ituuuuuh gaeesssss. Ada aja konfliknya. Harapan oh harapaaaannn, bener emang nasehat-nasehat bijak yang bilang kalau yang sering menyakiti diri kita itu sebenernya yaa karena terlalu banyak harapan, udah gitu berharapnya ke orang pulaa. kelar deh.

Jadi pada akhirnya kebahagian orang tua itu tanggung jawab siapa?

Menurut aku (lagi) yang namanya kebahagian itu engga bisa digantungkan ke siapa pun baik itu anak, orang tua, pasangan, teman dll. Kebahagiaan itu tanggung jawab masing-masing aja. Ngebahagiain diri sendiri aja susah kok yaa kenapa harus menanggung kebahagian orang lain.

Image by google

Yang jelas, Setiap anak pasti juga punya harapan tersendiri buat orang tuanya, setiap anak juga ingin ngebahagiain orang tua, tapi kalau orang tua udah punya standar bahagia versi sendiri ya susah, gak ada titik temunya.

Orang tua pun gitu kan? pasti selalu berharap anaknya hidup dengan bahagia. Jangan lupa bahwa tugas anak itu berbakti kepada orang tua (cari coba makna berbakti gimana wkwk)

Membahagiakan diri sendiri itu engga berarti egois kok, diri kita juga punya hak untuk bahagia. Gimana kita bisa buat orang lain bahagia kalau kita gak pernah bahkan engga tahu apa yang membuat diri kita bahagia. Yang terlihat indah dari luar belum tentu dalamnya juga indah hahahaha.

Dan sebelum aku tutup tulisan ini, pernah ada yang kasih nasehat sama aku :


Saat mau menyampaikan sesuatu kepada orang tua, gimana pun orang tua kita maka sampaikan lah dengan LEMBUT.

Kalau buat aku pribadi inituh PR banget gaeeessss, masih suka remedial aquuu.

Jadi jangan lupa bahagia gaes. Peace love and gaul hahahaha

Kutekan hanya untuk difoto kemudian diapus lagi hahahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *