Categories
Cerbung

Dia Kembali Part II

Setelah selesai mandi, aku jelas tak langsung keluar kamar. Malaasss, karena aku tahu, mau tidak mau aku harus menemani Dewi duduk diruang tamu.

Jadi ku biarkan saja dia menunggu, lalu aku ambil handphone yang sejak tadi belum aku cek.

Ahhh tidak ada pesan penting, kemudian aku search sebuah nama “Combro”

“Tau gak sih lu, masa Dewi ada dirumah gue sekarang” ku kirim pesan itu ke Rani.

Rani itu temanku, dia tahu tentang kisah cintaku dan Dewi, kenapa aku menyimpan nomornya dengan nama Combro? Entah, tak ada alasan khusus, hanya ingin sajaa menyebutnya begitu

Tak lama handphoneku bergetar, tanda ada pesan masuk

“Ciyeeeee didatengin mantaaan, uhuk”

Sial ni anak malah ngeledek, balasku lewat ucapan, yang sudah pasti tidak akan didengar Rani.

(Tok-tok)

“Yooooo, kok engga keluar-keluar sih, orang ada tamu juga. Cepetan doong”

Terdengar suara dibalik pintu, itu pasti Mama

“Iyaaa, bentaaar”

Kemudian aku keluar kamar, tentu saja menuju ruang tamu untuk bertemu Dewi

****

“Eeh Yoo, udah selesai mandinya?” Basa-basi yang dilontarkan Dewi, sangat basi bukan?

“Hah, iyaaa. Eh serius ngapain kesini? Mau kasih undangan?” Sindirku..

“Ih, enggalah, cuma mau main aja, silaturahmi”

“Oooohhhhhh” jawabku setengah malas

“Yo, kenapa sih kalau di chat balasnya singkat banget?”

“Ya gapapa, emang kenapa? Kan yang penting dijawab” aku menjawab dengan tidak menatapnya sedikit pun, melainkan sambil main handphone

Meskipun begitu, dia masih terus menanyakan hal-hal engga penting, yang sebenarnya bikin aku bete. Aaarrgghhh rasanya ingin ku suruh dia pulang tapi kan gak mungkin.

Malah dia menceritakan kehidupannya setalah kita putus, padahal aku juga sudah tidak peduli. Sesekali dalam hatiku menjawab bodoamat tapi yang keluar dari mulutku lain

“oohhh,iyaaa,hhmmm,baguslah”

Satuuu jam aku menemani Dewi, kalau dulu saat pacaran rasanya itu adalah waktu yang sangat singkat, tapi entah kenapa malam itu aku merasa waktu berjalan sangat lama. Menyebalkan

Akhirnya dia pulang, dan aku lega

****

Sesaat setelah Dewi pulang, aku langsung membanjiri chat ke handphone Rani, ku ceritakan yang Dewi katakan tentu sajaaa beserta umpatan yang sejak tadi ku pendam.

“Gila ngapain yaa dia kesini, gak jelas banget, masa dia cerita katanya dia sempet punya pacar, tapi sikap pacarnya beda banget sama gue. Anjir gak abis pikir gue (dan masih panjang lagi)”

Aku tak tahu diujung sana Rani memasang raut muka seperti apa saat membaca semua pesan yang kutuliskan.

Tapi Rani menjawab dengan satu pertanyaan

“Lu masih ada rasa engga sih sama Dia?”

Tentu sajaa aku langsung jawab “Engga sama sekali”

Walau kalau boleh jujur aku pun bingung, aku kesal saat dia datang, tapi entah ada rasa yang tidak bisa ku jelaskan rasanya.

Mungkin seperti rasa bangga atau senang karena akhirnya dia kembali, berarti artinya dia menyesal bukan? Ada rasa puas tersendiri. Tapi aku tak pahaam arti sesungguhnya dibalik semua perasaan ini.

“Yakin? Kayanya dia mau balikan deh sama lu, lu mau kalau dia ngajak balikan lagi? Kalau kali ini dia mau serius sama lu gimana?” Balasan dari Rani

****

Aku jelaskan sedikit tentang Rani, dia itu temanku bertukar cerita, aku mengenalnya sejak SMP. Awalnya kita tidak dekat, aku lupa apa yang membuat kita menjadi dekat hingga mau saling membagikan cerita satu sama lain.

Yang ku tahu, sejak dulu Rani memang orang yang asik untuk dijadikan tempat bercerita dan bisa dibilang cukup dewasa. Mungkin itu yang membuatku mau menceritakan hal-hal yang ku alami, walau tidak semuanya sih.

****

“Ah sok tau lu” aku malas menanggapi balasan Rani.

Gak asik, malah membuatku makin pusing

“Hahahahha” balas Rani, jelas saja tidak aku balas lagi.

****

Setelah kejadian Dewi datang kerumah, Dewi jadi semakin sering mengirim WhatsApp

Kadangku abaikan, eh tidak, maksudnya tidak benar-benar aku abaikan tapi lebih ke menjawabnya dengan waktu yang sangat lama, padahal aku online tapi sengaja tak ku buka pesan darinya.

Alasannya? Aku pun tak tahu, malas tapi juga tidak bisa untuk benar-benar mengabaikannya.

****

Setelah putus dari Dewi, aku tidak pernah memiliki pacar lagi. Ada beberapa yang dekat, namun tidak sampai pacaran.

Sebenarnya aku ingin menjadikan seseorang yang dekat denganku itu sebagai seorang pacar, tapii tidak bisaaa karena sepertinya dia tidak tertarik kepadaku. Atau jangan-jangan karena aku masih trauma ditolak?

Aaarrgghhh kenapa kisah percintaanku terlalu rumit siihhh.

Tapi menjomblo juga memberikan keuntungan tersendiri bagiku, aku jadi bisa menabung. Yaa aku bertekad serius menabung untuk menikah, jadi saat ku temukan wanita yang cocok, wanita itu tak harus menunggu lama untuk sampai kejenjang yang lebih serius.

Lagian umurku juga semakin tua, dan aku lelah menjalin hubungan yang tak jelas. Jadi lebih baik aku menunggu sambil mempersiapkan yang bisa aku persiapkan.

Seperti mempersiapkan materi dan tentu saja mental. Perjalanan rumah tangga bukan hal yang mudah bukan? Yang saat aku merasa lelah atau salah bisa ku akhiri sesuka hati. Ini masalah serius, sehidup semati bahkan mati pun tetap harus ku pertanggung jawabkan. Langsung pusing kepalaku saat harus memikirkan sejauh itu.

****

Untuk ketiga kalinya Dewi main lagi kerumah. Sepertinya Dewi semakin kehilangan akal sehatnya.

Entah dapat ide darimana, dia mengajak keponakan, Mama serta kakakku untuk pergi jalan-jalan bersama.

Aku tak bisa berkomentar lagi, terserahlah dia mau apa, aku tak peduli.

Sampai suatu waktu dia mengutarakan isi hatinya kepadaku.

“AKU MENYESAL, PLEASE BERI AKU KESEMPATAN LAGI”

Haaaaahhhh hatiku panas, apaan siihhh duluu dia loooh yang menolak niat baikku, dia yang meninggalkan aku dengan alasan bodoooh dan tak jelas itu.

Sekarang? Dia minta kesempatan untuk menjalani hubungan sepeti dulu? Aku benar-benar tak bisa mengerti dengan cara berpikir cewek satu ini. Gilaaa yaaa

Jawabanku? Jelaaass aku tidak mau

Tapi Dewi tidak menyerah, dia terus bilang bahwa dia menyesal, dia salah menilai keluargaku. Dia bilang sekarang dia akan berubah dan tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Aaahhhhh persetan dengan semua kata-kata yang sudah diucapkan, bukannya senang mendengar pengakuan Dewi, malah itu membuatku semakin sakit hati.

Aku tetap pada pendirianku, aku tak bisa kembali menjalin hubungan dengannya.

“Yang sudah berlalu ya sudah, jadikan pelajaran saja, kalau dulu kamu bilang tidak siap hidup denganku karena kondisi keluargaku, maka aku beritahu kamu, sampai saat ini kehidupan dikeluargaku masih sama. Dan aku sadar, kita memang beda. Kita tak bisa saling melengkapi kekosongan yang ada, kalau memang jodoh pasti kita akan bersama. Tapi kamu tak usah mengharap banyak tentang itu semua”

Hanya kata-kata itu yang yang bisa kuberikan sebagai jawaban untuk Dewi. Walaupun dia tetap tidak terima, aku tak peduli. Keputusanku sudah bulat.

Saat ini aku tidak bisa menerimanya kembali, suatu saat? Entah, aku tak mau memikirkan, yang jelas tidaak untuk sekarang, besok, ataupun lusa.

****

Dulu memang aku pernah berfikir bahwa Dewi orang yang tepat untukku jadikan istri.

Dulu memang aku sulit menerima kenyataan bahwa dia menolak keseriusanku. Tapiii perpisahan itu menyadarkan ku, jika aku masih bersamanya hingga kini, mungkin aku tak akan melihat sisi lain dari Dewi.

Dia yang ternyata egois, yang selalu ingin segala sesuatunya dipenuhi tanpa memikirkan orang lain. Dia yang bisa dengan mudah memandang rendah orang lain tanpa tahu seberapa besar usaha orang yang dia rendahkan.

Bahkan dulu, aku pernah menerima dia kembali padahal saat itu dia telah mengkhianatiku dengan yang lain, dulu aku berpikir itu karena Cinta.

Cintaaa? Aahhh omong kosong, memang aku saja yang bodoh.

Apakah harus kehilangan terlebih dulu untuk tahu seberapa berharganya orang yang kita miliki? Jika harus begitu, lalu untuk apa ada kata “menghargai”

Aku lebih memilih untuk menghargai apa yang ku miliki saat ini, termasuk menghargai diriku sendiri.

Aku memang kehilangan Dewi, tapi setidaknya aku bersyukur karena kini aku menemukan diriku.

BACA JUGA : Dia Kembali Part I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *