Categories
Cerpen

Bersembunyi dari rasa takut

SUARA ketukan keras itu telah merusak lelap tidur Sobari. Semula ia mengira suara itu bagian dari mimpi buruknya. Tapi ternyata suara itu menjadi semakin keras dan jelas. Suara ketukan pintu itu tak henti-hentinya, membuat jantung Sobari berdetak kencang layaknya orang yang sedang berlari.

Dengan penuh ketakutan Sobari memutuskan bangun dari tempat tidurnya, baru 3hari Sobari pindah ke kampung ini tapi polisi sudah bisa menemukannya. Rasanya ia ingin melarikan diri lagi, tapi ia sadar, jika polisi sudah mengetahui keberadaannya, pasti tempat ini telah dikepung.

Mustahil ia bisa lari, bisa-bisa malah ia ditembak hidup-hidup. Akhirnya Sobari berjalan menuju pintu, kali ini dia pasrah dengan keadaan. Dia membuka pintu, saat melihat sosok yang ada didepan pintu matanya langung terbelalak.

“Parman, bikin kaget saja, ngetuk pintu kaya orang dikejar-kejar pol….” Tak kuasa Sobari melanjutkan kalimatnya hingga selesai dengan nada kesal namun terdengar lega.

“Banyak hal yang mau aku tanyain sama kamu, tentang kedatangan kamu yang mendadak kesini dan tentang…..” Sebelum Parman melanjutkan kelimatnya, ia memastikan sekelilingnya aman, tidak akan ada yang mendengar kalimatnya itu.

“Kematian Jaya” bisik Parman lirih

Sontak hal itu membuat Sobari membelalakan matanya.

 “Kamu tahu darimana Jaya udah meninggal?” Tanya Sobari dengan sedikit panik. Tak ingin pembicaraannya didengar oleh orang lain, ditariklah tangan Parman menuju kamar.

***

Sobari adalah pemuda desa yang tekun, bertanggung jawab dan terkenal ramah dikampung halamannya. Sejak ayahnya sakit-sakitnya, Sobari memutuskan untuk pergi mengadu nasib di Ibukota, walau tak ada sanak saudara yang ia miliki di Jakarta.

Dengan niat ingin membantu keuangan keluarga. Meski hanya bermodalkan Ijazah SMA, Sobari yakin setidaknya di Jakarta, ia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada berdiam diri di kampung, yang ujung-ujungnya hanya menjadi petani serabutan.

Sesampainya di Jakarta, Ia bertemu dengan Parman disalah satu tempat makan khas Jawa, mereka mengobrol banyak hal, hingga akhirnya Parman membantu Sobari untuk  melamar kerja disalah satu perusahaan jasa Outsoursing Security yang cukup besar. Hanya dalam waktu dua minggu Sobari sudah mendapatkan pekerjaan. Mereka pun hidup bersama disebuah kontrakan petakan, walau tahun lalu Parman memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya karena masalah keluarga.

Hari-hari Sobari di Jakarta berjalan normal, tak pernah ada hal yang special baginya kecuali saat menjelang akhir bulan, karena itu adalah hari dimana ia bisa mengirimkan uang kepada orangtuanya dikampung. Orangtua Sobari sudah berumur, tidak pandai menggunakan teknologi. Jadi setiap bulan Sobari selalu mengirimkan uang melalui Rekening tetangganya untuk dititipkan kepada orang tuanya.

Seminggu sekali Sobari juga menelpon orang tuanya untuk menanyakan kabar dan berbagi cerita yang dialami, lagi-lagi hal itu dilakukan melalui handphone tetangganya. Padahal Sobari pernah mengirimkan handphone untuk orangtuanya dikampung tapi tidak terpakai, katanya mereka terlalu tua untuk belajar teknologi.

Tapi tiga hari lalu, hari-hari Sobari seolah berubah kelam lalu tanpa pamit kepada siapun Sobari meninggalkan Jakarta, juga meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

***

“Bari, sebenernya apa yang membuat kamu tiba-tiba datang kesini. Sejak awal kamu datang tidak menjawab pertanyaanku, ditambah kamu pun gak cerita sama sekali tentang kematian Jaya” Tanya Parman

Sobari hanya bisa menghela nafas, ia bingung harus memulai cerita dari mana sambil menatap langit-langit kamar seolah ada jawaban menggantung diatas sana.

“Sobariii, jawaab aku, kamu gak ada hubungannya dengan kematian Jaya kan?” kali ini Parman bertanya sambil mengoyak badanku

“Ada, Man” Sobari menjawab singkat sambil menundukan wajahnya dalam-dalam

Jawaban yang keluar dari mulut Sobari membuat lemas sekujur tubuh Parman. Parman mengenal Jaya karena mereka dulu satu kontrakan saat bekerja di Jakarta. Mereka berteman cukup dekat. Parman sedih karena kehilangan salah satu teman dekatnya, tapi ada kenyataan yang lebih menyedihkan saat ia tahu bahwa Sobari terlibat dengan kematian temannya.

“Kenapa Bar? Kamu bukan tipe orang yang bisa membunuh orang. Apalagi teman sendiri, aku tahu kalian memang sering berdebat tapi engga masuk akal kalau kamu tega bunuh Jaya”

Parman masih tidak percaya bahwa Sobari benar-benar terlibat dalam kematian Jaya. Parman tahu persis kepribadian tamannya itu. Sobari adalah tipe orang yang lebih baik mengalah demi menghindari keributan, mana mungkin dia tega membunuh. Semua tak masuk akal bagi Parman, jangankan Parman. Sobari sendiri pun masih tak menyangka bahwa dia telah menghilangkan nyawa teman dekatnya.

“Semua berawal dari kekacauan yang ada di tempat kerja, dalam beberapa bulan terakhir sering ada kehilangan barang-barang milik karyawan dikantor mulai dari helm di tempat parkir, handphone hingga terakhir laptop. Tapi semua tidak terekam CCTV jadi tak ada yang tahu siapa pelakunya” dengan nada pelan Sobari memulai cerita tanpa Parman minta, tapi seolah tak kuasa melanjutkan ceritanya, Sobari menatap mata Parman.

“Lalu? Selesaikan ceritamu Bari, aku akan mendengarkan semuanya” balas Parman sambil memegang tangan Sobari, seolah sedang mentransfer kekuatan kepada  Sobari agar bisa melanjutkan ceritanya secara utuh.

“Karena hal itu semakin sering terjadi, banyak yang berasumsi bahwa pelakunya adalah orang dalam. Walau tidak jelas siapa yang mencuri tetapi hal itu membuat banyak orang saling curiga satu sama lain. Sungguh itu hal yang membuatku sangat tidak nyaman. Tapi aku bisa apa? Hanya diam, hingga suatu hari, tak lama setelah ada karyawan yang kehilangan laptopnya, aku tanpa sengaja bertemu Jaya disalah satu toko elektronik ingin menjual laptop” Sobari kembali terdiam sejenak

Saat itu banyak prasangka yang muncul dalam kepalaku, apa mungkin pencurinya adalah Jaya? Tapi ku tepis hal itu, untuk apa dia mencuri. Gaji kita memang tidak besar, tapi itu cukup untuk bertahan hidup. Jaya juga bukan orang yang senang menghambur-hamburkan uang, walau memang akhir-akhir ini Jaya sering meminjam uang kepadaku, tapi Jaya bilang untuk keperluan orangtuanya di kampung. Rasanya ingin langsung ku tanyakan pada Jaya, tapi aku takut dia akan tersinggung. Jadi aku memutuskan untuk mengawasinya diam-diam.

Setelah aku mengawasinya selama berhari-hari, aku temukan fakta baru. Fakta yang membuatku semakin tak percaya dengan kenyataan, namun fakta itu pula yang membuatku semakin yakin bahwa Jaya memang benar mencuri barang-barang dikantor.

Ternyata Jaya memakai narkoba, fakta itu membuatku sangat marah. Hingga suatu malam aku memutuskan untuk membicarakan hal itu dengan Jaya.

Awalnya dia terus mengelak hingga akhirnya dia mengakui semua hal memalukan yang sudah ia lakukan. Mendengar pengakuan Jaya, sebagai seorang teman hatiku hancur Man. Aku merasa gagal menjadi teman yang baik untuk Jaya.

Lalu aku meminta Jaya mengakui semua perbuatannya dan menyerahkan diri ke Polisi atau aku yang akan melaporkannya. Mendengar hal itu Jaya sangat marah, dia melayangkan pukulan ke pipiku. Tak terima dengan perlakuan Jaya, aku membalasnya. Terjadilah baku hantam antara kami, lalu aku mendorong Jaya.

Jaya terjatuh, dan kepalanya membentur batu. Aku melihat darah dibawah kepalanya. Aku panik, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku sudah mencoba mencari bantuan tapi tidak ada orang. Bodohnya, baik aku atau Jaya tak ada yang membawa handphone. Dan saat aku cek keadaan Jaya ternyata sudah tidak bernyawa.

Aku semakin kalut, aku ingin melapor kekantor polisi untuk menyerahkan diri, tapi aku teringat orangtuaku Parman. Kalau aku di penjara siapa yang akan membantu keluargaku? Apa kata para tetangga?  Akhirnya aku memutuskan lari kesini, aku pikir aku bisa melupakan semuanya. Tapi ternyata tidak, aku terus merasa ketakutan, dan dihantui rasa bersalah. Sobari menyelesaikan ceritanya dengan tangisan yang sudah tak kuasa ia bendung lagi.

“Hadapi Bar, kamu engga bisa terus lari begini. Kamu memang tak sengaja membunuh Jaya, tapi kamu tetap harus bertanggung jawab, lari dari masalah akan membuat kamu terus-terusan dihantui rasa bersalah dan ketakutan” ucap Parman lembut sambil mengusap-usap punggung sahabatnya itu.

“Tapi orangtuaku di kampung bagaimana Man? Siapa yang bisa bantu mereka? Mereka akan menanggung malu karena mempunyai anak seorang pembunuh” jawab Sobari masih dengan suara tangisnya

“Bar, Allah tidak akan membiarkan orang tuamu kelaparan, Pecayalah. Orang tuamu mungkin akan kaget dan sulit menerima kenyataan, tapi menurutku mereka tidak akan pernah kecewa saat mereka tahu yang sebenernya, mereka justru bersyukur karena anak kebanggaannya berani mengakui kesalahann dan bertanggung jawab. Bukannya lari dari kenyataan”

“Sebenarnya tadi aku dapat telpon dari Kepolisian menanyakan keberadaanmu, dari situlah aku mengetahui bahwa Jaya telah meninggal. Dan polisi sedang mencari keberadaanmu, maaf karena aku memberitahu mereka keberaaanmu saat ini” Parman mengatakannya dengan sedikit menelan ludah, mungkin sekarang Polisi dalam perjalanan menuju kesini.

Sobari hanya bisa menganggung pelan, “Kamu benar Man, aku memang tak bisa lari selamanya. Meskipun aku bisa menghindari kejaran polisi, tapi aku tak bisa lari dari ketakutan dan rasa bersalah”

Saat nanti aku dibawa oleh polisi, tolong kamu datang ke kampung halamanku, lalu ceritakan semua pada orangtuaku Man. Bantu aku menjelaskan semua kepada mereka, karena aku tak sanggup kalau harus menceritakan sendiri kepada mereka.

BACA JUGA : Aku bukan samsak

“Kamu tidak perlu khawatir aku akan jelaskan, dan aku akan sering menelpon mereka seperti yang biasa kamu lakukan”

Selang beberapa jam, Polisi setempat benar-benar datang ketempat bersembunyian Sobari di kampung halaman Parman, dan kali ini ia menyerahkan diri.

Akhirnya Sobari ditahan, meskipun sedih karena harus tinggal diruang penjara yang pengap tapi didalam hati Sobari ada kelegaan yang selama ini hilang dari hidupnya.

Orangtua Sobari di kampung awalnya merasa terpukul harus menerima kenyataan pahit tentang anaknya, tapi orang tua mana yang bisa membenci anaknya sendirinya. Tak ada pilihan selain menerima, sesekali mereka pun datang berkunjung menengok anak kesayangannya.

34 replies on “Bersembunyi dari rasa takut”

Sobari yang niat awalnya baik, jadi memperburuk suasana karena ngga bisa kontrol rasa marah..
Mungkin, ini moral of the story-nya yah?..hehe..

Nice story!

Sobari berada di posisi yang sulit. Serba salah. Pertengkaran yang terjadi malah membuat temannya meninggal. Tidak sengaja, hanya membela diri. Namun takdir berkata lain. Pasti sangat berat bagi orang tua sobari. tapi bakal lebih berat jika hidup diselimuti rasa takut.

Cerita yang sangat bagus mbak 🙂

Sobari membela diri karena Jaya memukulnya, Amarah berkecamuk sehingga terjadi hal seperti itu, lebih baik jujur daripada hidup dalam rasa takut. Btw ada loh di tempat kerjaku orang macam seperti ini udah ketauan cctv masih ngeles ,tapi akhirnya dipecat dan ga bisa diterima di perusahaan manapun karena kebiasaan dia mencuri seperti itu.

Terjebak dalam situasi seperti Bari tentu tidak mudah ya, memang sebuah upaya bela diri namun berujung petaka bagi diri sendiri. Semoga ditengah kondisi terjepit kita masih bisa menemukan solusi terbaik.

Mungkin karena tidak ingin ‘bernasib’ sama dengan Sobari, banyak yang akhirnya memilih untuk tidak peduli dengan keriuhan yang terjadi di sekitar. Terimakasih kasih kak Ser untuk tidak ‘Bersembunyi Dari Rasa Takut’, tulisan yang menggugah….

Banyak Sobari lain diluar sana yang nasibnya spti ini jadi terpidana karena ketidak sengajaan. Tapi kalau kasus hukum yg dilihat hasil perbuatan akhir ya ..Semoga Sobari dapet hikmh dari kejadian ini

ya memang sudah seharusnya di penjara utk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
harusnya si ga lari ya… berantem demi mempertahankan diri, bs ngeringanin hukuman gak sih?

Iyaa kak apapun alesannya mesti bertanggung jawab. Nah kalau masalah keringanan aku juga kurang paham🙈

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *