Categories
Tentang....

Apakah Seorang Anak Harus Berguna Bagi Orang tuanya?

Apa yang  terlintas pertama kali dalam benak kalian saat baca judul tulisan ini? kira-kira jawabannya iya atau engga? sebelum membahas lebih jauh tentang judul tulisan ini. Aku mau cerita dulu ya, biasanya saat nulis, aku adalah tipe yang susah untuk buat judul tulisan. Jadi seringnya, aku nulis dulu baru nanti mikirin judul, tapi kali ini sedikit beda, aku malah kepikiran judulnya dulu, baru mikirin isi yang pas hahaha

Sebenernya judul ini terinspirasi dari drama korea, buat yang bertemen sama aku pasti tahu banget kalau aku emang penggemar berat drama korea. Udah lama banget aku tuh mau buat review drama korea yang aku tonton tapi suka ada aja yang bikin engga jadi, entah itu males atau ternyata pas dipertengahan drama eehhhh dramanya mengandung unsur yang nganuuu banget wkwkwk (ngeriiii aku)

Dalam 2 minggu terakhir aku lagi ngikutin drama korea yang masih on going, dramanya Kim Soo Hyun. Buat yang engga tau nih aku kasih potonya deh buat biar kebayang sedikit sosoknya.

Pusing aku liatnyaaaaa

Ganteng kan? ganteng laah, tapi buat yang anti korea-koreaan mah akan bilang cantiik. jadi please no debat. Balik lagi ke masalah drama, judul drama yang aku tonton adalah It’s Okay to Not Be Okay.

Drama ini berkisah tentang pekerja dibidang psikiatris (Kim Soo Hyun) yang harus merawat kakaknya yang mengindap Autis setelah orang tuanya meninggal, ditengah beratnya hidup, Kim Soo Hyun bertemu dengan seorang penulis buku anak-anak yang sangat terkenal tapi dia memiliki gangguan anti sosial.

Baca juga cerpen: Bersembunyi dibalik rasa takut

Namanya juga drama pasti udah ketebak banget lah yaak apa yang akan terjadi nantinya. Pasti akan saling jatuh cinta walau diawali dengan konflik gumush-gumush manja hahaha.

Aku engga akan bikin review full tentang drama ini, karena dramanya juga baru 4 episode cuy masih kurang 12 episode lagi, walau baru 4 episode tapi menurut aku drama ini keren,  kisah cinta yang dibalut unsur psikologi gitu. Jadi drama ini menyajikan cerita yang kelam sekaligus menyentuh. (kok jadi kaya promo drama sih)

Ada beberapa scene yang menurut aku itu deep banget. bahkan rasanya relate banget sama kehidupan disekitar aku. Yang pertama itu ada di eps.3, saat salah satu pasien RSJ kabur bersama Ko Moon Young (si penulis) .

Iniloh Mbak Penulis Jutek Abez tapi Cuantiknya Ampun deh

Dan pasien ini adalah anak seorang pejabat gitu, sebenernya dia engga gila yang sampe gak bisa diajak komunikasi, dia masih terlihat normal tapi jiwanya terguncang. Begitu deh pokoknya, susah jelasin aku tuh haha, nah saat kabur sama si penulis, dia dibawa ke tempat kampanye si Bapak Pejabat (Bapaknya lagi mencalonkan jadi presiden).

Saat Bapaknya lagi kampanye dipinggir jalan gitu, dia naik lah ke panggung kampanye, dia memperkenalkan diri, gini kata-katanya:

 “Halo hadirin, aku anak bungsu Kwon Man Su, namaku adalah Kwon Gi Do, Aku adalah pasien gangguan jiwa. Benar, aku adalah itik buruk rupa dalam keluarga kami. aku adalah aib keluarga kami. Seperti yang kalian lihat, seluruh keluargaku, termasuk Ayah, Ibu, Kakak-kakakku bahkan sampai keponakanku, mereka lulusan universitas Nasional Seoul jurusan hukum. Hanya aku yang bodoh dikeluargaku, meskipun begitu, itu bukan salahku. Aku hanya terlahir dengan sedikit kekurangan. Aku dipukul karena nilaiku jelek, diabaikan karena tak pandai belajar. Dikurung karena membuat masalah. Padahal aku juga anaknya. Tapi dia memperlakukanku seperti tak ada. Aku hanya butuh perhatian. Aku ingin dia mempehatikanku, aku melakukan hal  gila demi mendapat perhatiannya. Lalu, aku menjadi gila sunggguhan”

Dialog itu diawali dengan rasa menggebu-gebu seolah ingin memberitahu pada semua orang, terutama pada keluarganya bahwa dia itu ada, tapi diakhir-akhir kalimat rasanya tuh sediihhh banget.

Gini Ekspresi Dia

Walau ini cuma drama, tapi rasanya semua kata dalam kalimatnya itu benar adanya. Aku inget banget salah satu temen pernah cerita ke aku, tentang gimana sikap cuek orang tuanya, dia pengen banget diperhatiin sama orang tuanya sampe ngelakuin banyak hal, pelan-pelan dia mulai merusak diri dia sendiri, tapi tetep aja orangtuanya seolah gak sadar. Dan pada akhirnya, merusak diri kaya udah jadi bagian hidup dia.

Dan kejadian kaya gini tuh engga cuma satu atau dua, tapi cukup banyak. Kalian tahu anak punk atau anak jalanan? Ternyata, engga semua anak-anak itu berasal dari keluarga kalangan bawah lho, ada beberapa dari mereka itu berasal dari keluarga yang cukup berada. Rumah di Komplek, orang tua kerja di perusahaan besar tapi anaknya memilih hidup dijalanan. Minum-minuman keras, narkoba, sex bebas. Semua karena apa? karena kebanyakan dari mereka merasakan kesepian saat dirumah, dan mereka merasa dijalananlah mereka dianggap lebih “ada” dan ada yang peduli. sedih gak si? ya sedihlaah.

***

Terus apa hubungannya sama judul tulisan ini dong? adaa koo, sabar masih ada satu scene lagi yang rasanya buat dada aku ikutan sesek banget. Setelah insiden Kwon Gi Do buat pengumuman depan publik gitu jelas dong yaa, kalau si Bapak Pejabat itu akan menuntut pihak rumah sakit, kok bisa-bisanya pasiennya kabur.

Ya namanya juga drama, sebelum mengajukan tuntutan, Si Bapak Pejabat itu datang ke RSJ menuntut pihak RS untuk memohon maaf, terutama si perawat dan penulis yang udah bawa anaknya ketempat kampanye. Hal itu jelas udah merusak nama baik Bapak Pejabat, katanya. (padahal naon ih, pecitraan doang) Oiya lupa, si penulis ini ceritanya jadi relawan di RSJ, ngajar sastra gitu.

Dipanggil lah perawat (Kim Soo Hyun) ke ruangan Direktur, Direktur mencoba menjelaskan walau kejadian itu bikin rusuh, tapi mau gimana pun keadaan pasien yang notabene adalah anak si Bapak Pejabat ini membaik setelah insiden itu, malah dalam waktu dekat udah gak perlu lagi dirawat di RSJ.

Dengar penjelasan Direktur, si Bapak Pejabat malah makin marah dong, dia beranggapan mana mungkin orang gila bisa dibolehin pulang ke rumah, kalau sampe RSJ ini membolehkan pulang, dia akan mengirim anak yang dianggap  engga berguna itu ke RSJ lain, toh di Korea RSJ engga cuma satu. (Ihhh kzl akutuuu, ini Bapak gak ada akhlak banget).

Buat orang normal yang dengar kalimat itu pasti bakal kesel lah yaak, muka Direkturnya pun keliatan nahan kesel dan terheran-heran gitu. Akhirnya perawat ganteng yang kebanyakan diem itu angkat bicara.

“Anak tidak berguna? Apakah seorang anak harus berguna bagi orang tuanya?” Cara ngomongnya santai, tapi dari sorot matanya keliatan banget kalau dia marah dan pengen nampol si Bapak Pejabat.

Sampai sini kalian udah mulai tahukan asal mula judul tulisan ini?, lanjut ke cerita drama dulu yaa. Menurut kalian kata apa yang akan terlontar dari mulut Bapak Pejabat gak ada akhlak itu? Gini gaes katanya.

“Seorang anak terlahir karena dibutuhkan orang tuanya, tanyakan saja pada orang tuamu. Apakah mereka membutuhkan anak yang tidak berguna?”

“Seharusnya tidak usah dilahirkan” Si Perawat itu jawab dengan menaikan nada bicaranya

Dan aku setuju lah sama jawaban perawat, rasanya aku juga emosi jiwa deehh sama jawaban Bapak Pejabat, tapi sisi lain pun jadi ikut mempertanyakan “Apa ada orang tua yang begitu?”

Masalahnya kan gini lhoo, setiap anak yang terlahir itu gak ada yang atas dasar kemauan dari si anak dong? sepakat ga sih? Dan saat seorang anak terlahir kedunia ini, juga gak ada jaminan yang pasti bahwa dia akan berguna atau bermanfaat bukan? Walau seharusnya setiap orang yang terlahir pasti punya manfaat tapiiiii prosesnya untuk jadi bermanfaat ituu loh yang gak mudah. Semua tergantung dari cara didik, lingkungan, pola pikir, cara bersikap dan banyak faktor lainnya.

Menurut aku, kalimat “Berguna bagi orang tua” itu engga jelas gimana maksud dan definisi pastinya. Memang berguna buat orang tua itu yang gimana si?

Saat seorang anak mampu membantu setiap kesusahan orang tuanya, yang mampu memberi uang untuk kebutuhan orang tuanya, yang bisa menjaga nama baik keluarga. Begitu? duh kok yaa berat amat jadi anak yaak kalau harus begitu, hiikks. Menurut aku (lagi) arti berguna dari sisi orang tua dan anak bisa jadi berbeda lho.

Ada anak yang berjuang hidup tanpa harus merepotkan orang tuanya adalah salah satu cara seorang anak menjadi anak yang berguna bagi orang tuanya, tapi ada orang tua yang merasa engga cukup hanya dengan itu. Ada hal lebih yang diharapkan. Hal apa? Entahlah, balik lagi, standar hidup setiap orang itu kan beda-beda.

Bukankah dalam hubungan keluarga semua harus saling berguna satu sama lain? Gak bisa kalau cuma dari satu pihak aja, contohnya kaya drama tadi deh. Dia mengharapkan anaknya berguna, tapi sebagai orang tua, Bapak Pejabat itu gak bisa menerima keadaan anaknya. ya gimanaa dong. Susah kaan?

 Kalau anak itu diibaratkan investasi yang bisa berguna atau menguntungkan kelak, maka pasti harus ada effort yang gede juga dong untuk membuat investasi itu jadi buah yang menguntungkan. Kan gak mungkin kalau tiba-tiba ada hasil tanpa usaha sebelumnya.

Jadi balik lagi, sebenernya anak itu harus berguna bagi orang tuanya engga si? dan berguna bagi orang tua itu gimana maksdunya? yang baik hati silahkan jawab ya.

Sekian

Baca juga cerpen : Kita Berbeda

Aku kasih bonus dulu nihh hahahaha

1 reply on “Apakah Seorang Anak Harus Berguna Bagi Orang tuanya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *