Categories
Cerpen

Aku Bukan Samsak

“Ya ampun Ra, kamu tahu kan kalau Pak Dibyo itu teliti banget. Kamu salah pakai tanda baca dalam penulisan aja Beliau gak mau tanda tangan. Ini kamu salah masukin dana anggaran?” bentak Kak Mira dengan mata melotot sambil nunjuk-nunjuk mukaku dengan lipatan dokumen yang gagal ditandatangin Pak Dibyo.

“Tapi kan Ka….”

“Tapi tapi apa? Intinya kamu salah Ra. Jangan kebanyakan tapi. Emang kamu aja gak bisa kerja” Lanjut Ka Mira memotong kalimat yang belum selesai aku ucapkan.

“Maaf Ka, besok aku perbaiki” hanya kata itu yang bisa ku ucapkan untuk membalas semua makian dari Ka Mira.

Walau dalam hati aku bergumam “Ini kan salah lu juga lah, kalau kemarin dia mau periksa proposal itu sebelum diajukan pasti gak akan kaya sekarang”

Tapi kalau sampai kalimat itu benar-benar terucap dari mulutku, rasanya kursi didepanku saat ini bisa melayang.

“Yaudah kak, aku balik dulu. Besok aku balik lagi serasih revisian proposal. Nanti tolong cek yaa sebelum aku maju ke Pak Dibyo”

“Pulang aja sana, emosi gue kalau liat lu” jawabnya ketus

***

*Jebreet* (aku membanting pintu kosan dengan keras)

Sumber Gambar : Pinterest

“Gilaa, gilaaaaa ahhhh gue keseeellll kesel keseeel” aku teriak didalam kosan sambil membanting tas yang ku bawa.

“Lu kenapa sih, baru dateng udah marah-marah” tanya Sinta

Aku dan Sinta tinggal satu kosan, satu kampus walau beda fakultas. Aku Fakultas Sastra sedangkan Sinta Fakultas Pendidikan.

“Gue kesel banget sama nenek lampir Mira ituu” jawabku sambil gregetan

“Kena….”

Belum selesai Shinta bicara, aku sudah nyerocos menceritakan kejadian diruang BEM tadi.

“Gue sadar diri sih, gue memang salah. Tapi kenapa sih dia itu seneng banget nyalah²in gue, padahal dia juga salah kan. Kenapa sih dia gak sadar diri jg?” Ucapku sambil kesal

“Aahh rasanya pengen ngomong kasar, gue gak terimaaaa kenapa sih dia gak bisa ngomong baik² sama gue” aku masih saja ngomel sendiri

“Yaa ngomonglaah, kasar kasaar gituu” sahut Shinta dengan santai

“Gak gitu kali” aku melotot

Shinta tertawa lalu dia berkata “Lu juga salah, ngapain tadi gak jawab? Padahal kan bukan kesalahan lu sepenuhnya. Kalau gue sih udah ngelawan lah”

Aku terdiam. Shinta benar, tapi rasanya aku terlalu takut untuk menjawab si Mira itu, karena aku merasa aku jg menyumbang kesalahan. Atau memang pada dasarnya aku senang sekali memendam perasaan.

“Ra, sadar atau engga, lu itu kaya orang yang seneng disalahin sih. Gak bisa ngebela diri sendiri. Lu itu sering dijadiin samsak sama orang” lanjut Shinta

Aku semakin terdiam, lalu melirik kearah Shinta “bisa diem gak lu?” Jawabku

Shinta kembali tertawa.

Sebenernya aku sedang memikirkan apa yang Shinta ucapkan. Karena aku merasa itu benar.

“Ta, cara orang tua memperlakukan kita itu berpengaruh gak sih sama sikap kita saat ini?” Tanyaku kepada Shinta secara tiba-tiba.

“Rara sayaang, gue itu anak FISIP bukan Psikologi. Salah nanya lu” sahutnya cepat

“Aaarrgghh kenapa dulu gue engga ambil jurusan Psikologi aja si”

Sumber gambar : Pinterest

Lagi-lagi Shinta tertawa.
“Kan gak boleh sama Ayah lu, katanyaa mending lu belajar primbon aja” ledek Shinta

Ku lempar dia dengan bantal, lalu aku ikut tertawa. Kenapa aku merasa hidupku seperti kepingan puzzle yang berantakan.

2 replies on “Aku Bukan Samsak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *